18 Okt 2010

Puluhan Wartawan Tanam Bakau

Puluhan Wartawan Makassar peserta pelatihan Jurnalis Lingkungan melakukan penanaman bakau di areal Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Puntodo Kab. Takalar.

Takalar, Greenpress-Jurnalis lingkungan tak hanya giat memberitakan persoalan lingkungan di media masing-masing, namun mereka juga berupaya mengambil peran yang lebih ril dalam pelestarian lingkungan melalui aksi penanaman tanaman bakau dipinggir pantai dusun Putondo, Takalar, Sulawesi Selatan.

Kegiatan tersebut merupakan rangkaian acara field trip Pelatihan Jurnalis Lingkungan, yang diselenggarakan AJI Makassar bekerjasama Masyarakat Jurnalis Lingkungan Indonesia bertempat di Makassar.
(Andi A. Effendy)

15 Okt 2010

Penggiat Social Media Sesalkan Penolakan Kapal Greenpeace


JAKARTA, GREENPRESS-Pemerhati lingkungan dan penggiat social media sesalkan sikap pemerintah Indonesia yang tidak mengijinkan Kapal Greenpeace Rainbow Warrior masuk ke perairan Indonesia dalam rangkaian perjalanan tur se-Asia Tenggara.

Diantara datang dari aktivis lingkungan yang tergabung dalam Jaringan Hijau Mandiri melalui akun facebooknya menulis, “ini adalah bukti Nyata Ketidak Pedulian untuk suatu hal yang Baik, seiring dengan mumutar baliknya kemudi kapal RW, karna Tidak di perbolehkan RW merapat di Bumi Pertiwi, Ini saatnya pula Kita Anak Bangsa harus cepat memutar balik kemudi Kita (Turn The Tide) dengan memilih para Pemimpin Masa Depan dari golongan Politisi Hijau,”

Jonas Nathaniel M mempertanyakan melaui situs jejaring social mempertanyakan apa alasan pemerintah melarang kapal Greenpeace? “Ini salah satu bentuk yang menunjukkan watak aslinya pemerintah kita. Mereka sebenarnya tidak pernah peduli dengan lingkungan dan alam Indonesia. Yg penting eksploitasi, eksploitasi dan eksploitasi!!!,”tulis Jonas dalam di dinding facebook Greenpeace.

Ada juga yang menduga dibalik penolakan kapal Grenpeace di Indonesia karena kuatnya lobby perusahaan perusakan hutan di Indonesia ke departemen terkait. “Mungkin bukan bapak SBY secara pribadi yang melarang masuknya Rainbow Warrior ke perairan Indonesia, tapi ada beberapa individu/corporate yg terkait langsung/tdk langsung dgn pembabatan dan pengrusakkan hutan di Indonesia yg takut kedoknya terbongkar. Padahal aku dah nyiapin kaos Rainbow Warrior-ku buat nyambut mereka,” tulis Tunis Andayani di facebook.

Namun mereka berharap, Greenpeace tetap semangat dalam menyuarakan perlindungan atas lingkungan di Indonesia. “Kami mohon Greenpeace jangan putus asa. Selamatkan bumi Indonesia. Sekarang belum berhasil, besok coba lagi. Karena mungkin sekarang ini mungkin pemerintah kuatir keliatan eksploitasi hutan yang jor-joran apalagi dengan adanya kejadian bencana Wasior. Jelas banget koq sampahnya gelondongan kayu besar. Mari berjuang memerdekan Indonesia dari eksploitasi hutan,”harap Meisye Elizabeth Baraoh via akun facebook resmi Greenpeace Indonesia. (Marwan Azis).





Greenpeace Kecewa Atas Penolakan Kapal Rainbow Warrior



Seorang fotografer terlihat mengabadikan kapal Greenpeace saat berlabuh di pelabuhan Tanjung Priok, tahun 2007, Foto : Marwan Azis/Greenpress.

JAKARTA,GREENPRESS-Greenpeace mengaku kecewa dengan Pemerintah Indonesia atas penolakan kapal Greenpeace Rainbow Warrior masuk ke perairan Indonesia dengan alasan yang tidak masuk akal.

"Kami kecewa dengan peristiwa ini. Greenpeace adalah Indonesia, juga Kanada, Belanda, Australia, China, atau juga bangsa-bangsa lain yang ada di dunia,”ujarnya.

Seraya menambahkan, Greenpeace adalah organisasi global yang berdedikasi untuk perlindungan lingkungan dan perdamaian dunia. “Kami bisa hadir di dunia karena keinginan masyarakat sipil global,”kata Kumi Naidoo, Direktur Eksekutif Greenpeace Internasional yang berbicara di sebuah media briefing bersama sejumlah aktivis lingkungan di Jakarta (14/10).

Kunjungan kapal Greenpeace kali ini merupakan rangkaian tur Rainbow Warrior yang melintasi lautan Asia Tenggara dan menyempatkan diri singgah disejumlah negara termasuk Indonesia.

Tur kali ini bertujuan menyerukan kepada para pemimpin negara di Asia Tenggara termasuk Indonrsia untuk mengatasi krisis lingkungan dengan mengadopsi alur pembangunan hijau demi mencegah dampak buruk perubahan iklim. Sayangnya saat Kapal Rainbow Warrior hendak memasuki perairan Indonesia, pemerintah menolak memberikan ijin. (Marwan Azis).

Pembukaan Lahan dan Hutan Nyumbang Lima Persen Emisi



Kayu Log Papua, Foto : Telapak

Jakarta, Greenpress-Pembukaan lahan gambut dan hutan memberikan kontribusi signifikan terhadap perubahan iklim,mengancam habitat alami spesies langka serta pelanggaran aturan masyarakat dalam pengelolaan sumber daya alam sehingga rentan konflik sosial.

Hal tersebut diungkapkan sejumlah aktivis lingkungan dalam sebuah media briefing di Jakarta setelah kapal Greenpeace Rainbow Warrior ditolak masuk oleh pemerintah Indonesia untuk alas an yang jelas.

Berdasarkan catatan Greenpeace, deforestasi berkontribusi sekitar seperlima emisi gas rumah kaca global.

Menurut Bustar Maitar, Jurukampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara, pemerintah RI harus segera mengimplementasikan moratorium. “Mengakhiri deforestasi harus menjadi strategi global untuk mengatasi perubahan iklim, karena mempunyai potensi besar untuk secara cepat mengurangi emisi gas rumah kaca,”jelasnya.

Hal senada juga disampaikan, Berry Nahdian Forqan, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI). Menururnya, moratorium hutan merupakan salah satu solusi terbaik mengatasi dampak perubahan iklim dan menyelamatkan spesies yang terancam punah akibat dampak perubahan iklim.

"Hari ini kami menyediakan kriteria minimum dan indikator untuk moratorium yang efektif yang diakui organisasi masyarakat sipil kepada pemerintah. negosiasi Norwegia dengan Indonesia untuk mengakhiri kerusakan hutan dan melindungi lahan gambut,”tandasnya.


14 Okt 2010

RI Diminta Implementasikan Moratorium


JAKARTA,Greenpress,Greenpeace bersama dengan koalisi lembaga swadaya masyarakat lainnya menyerukan kepada Pemerintah Indonesia dan Norwegia untuk menutup celah yang ada dalam kesepakatan senilai satu miliar dollar Amerika.

Mereka meminta pemerintah Indonesia segera mengimpletasikan moratorium (penghentian sementara) konversi di seluruh hutan alam baik izin baru maupun izin yang telah ada.

Rincian kesepakatan US $ 1 miliar itu sedang dinegosiasikan setelah nota kesepakatan (LoI) ditandatangani pada bulan Mei tahun ini oleh Pemerintah Norwegia dan Indonesia. Sebagai bagian dari perjanjian tersebut, Indonesia mengumumkan dua tahun moratorium konversi di setiap konsesi baru pada hutan alam dan lahan gambut.

"Bukan hanya apa yang Anda lakukan, tetapi juga apa yang tidak Anda lakukan, yang harus Anda pertanggungjawabkan. Pemerintah Indonesia harus menjamin perlindungan bagi semua lahan gambut, hutan tropis, keanekaragaman hayati dan keberlangsungan hidup masyarakat adat. Masalahnya ada pada rincian,”kata Kumi Naidoo, Direktur Eksekutif Greenpeace Internasional.

Rincian kesepakatan ini menurut Kumi, akan menjadi preseden bagi perjanjian masa depan untuk mengakhiri deforestasi secara global, sehingga harus dilakukan tanpa celah.

"Terlepas dari moratorium, wilayah hutan hujan tropis yang luas dan lahan gambut kaya karbon masih terancam kerusakan di Indonesia. Agar efektif, kesepakatan ini harus mencabut semua konsesi yang ada di hutan alam dan lahan gambut untuk memastikan keselamatan daerah ini," tambahnya.


Puluhan Wartawan Makassar Diajari Reportase Lingkungan



Makassar, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Makassar bekerjasama dengan kelompok Jurnalis Lingkungan yang tergabung dalam SIEJ (Society of Indonesian Environmental Journalists) menggelar pelatihan jurnalistik di Kota Makassar.

Pembawa materi pertama Harry Sutadji mengatakan pelatihan wartawan yang berlangsung dari Tanggal 14-17 Oktober ini diharapkan dapat memberikan bekal pengetahuan kepada wartawaan mengenai perubahan iklim dan laut/pesisir.

Menurut dia pada pelatihan jurnalis ini diharapkan para wartawan mampu menjadi sarana berbagi pandangan mengenai jurnalisme lingkungan, baik konsep maupun praktek.

Kemudian muncul beberapa hal masalah utama reportase lingkungan. Mulai dari posisi jurnalis yang hanya memaparkan fakta dengan prosedur kerja jurnalistik saja atau harus terus mengadvokasinya. Kemudian masalah pengetahuan, narasumber serta strategi agar dapat ruang di halaman media, katanya.

Peserta dari pelatihan ini diikuti sejumlah wartawan dari berbagai media yang ada di Makkassar. (Andi A. Effendy)

ANTARA