21 Mar 2010

Yuk Dukung Eart Hour Hemat Listrik


Jakarta,Greenpress – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama World Wildlife Fund (WWF) Indonesia kembali akan melaksanakan aksi global Earth Hour 2010 di Jakarta pada Sabtu 27 Maret mendatang yang dipercaya bisa menekan penggunaan listrik 150 Megawatt.

Menurut informasi panitia yang dimuat laman earthhour.wwf.or.id, dari aksi pemadaman lampu selama satu jam diharapkan dapat menghemat daya listrik sekitar tiga kali lipat atau 150 Megawatt (MW) dari pencapaian tahun 2009 yang dapat menurunkan daya listrik sebesar 50 MW selama satu jam.

Pelaksanaan aksi global Earth Hour 2010 melalui pemadaman lampu selama satu jam pada pukul 20.30-21.30 akan dilakukan serentak di sejumlah tempat di Jakarta. Diantaranya akan mematikan lima ikon di DKI Jakarta, yakni Bunderan Hotel Indonesia dan air mancurnya, Monas dan air mancur menarinya, Gedung Balaikota DKI, Patung Pemuda, dan air mancur Patung Arjuna Wiwaha.

Untuk mendukung gerakan ini, Pemda DKI akan mengeluarkan surat edaran berisi imbauan kepada sekitar 700 pengelola gedung bertingkat di seluruh wilayah DKI Jakarta untuk turut berpartisipasi dalam aksi global Earth Hour. Tidak hanya itu, mereka juga mengajak pengusaha swasta turut memadamkan lampu kantor selama satu jam termasuk warga DKI.

Tak hanya di Jakarta, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo selaku Duta Earth Hour akan mengajak seluruh pemimpin provinsi dan 300 kota di Indonesia turut melaksanakan aksi pemadaman lampu selama satu jam secara serentak.

Gerakan Earth Hour ini pertama kali dilakukan pada tahun 2007, kegiatan Earth Hour dimulai pertama kalinya di kota Sydney, Australia, sebanyak 2,2 juta penduduk turut memadamkan lampu.

Pada tahun 2008 sebanyak 50 juta orang dari puluhan kota dan negara turut dalam aksi ini. Kemudian meningkat pada tahun 2009 yaitu sebanyak 1 miliar orang turut serta dalam aksi global penyelamatan bumi.

Untuk tahun 2010, menurut Ketua Badan Pembina WWF Indonesia, Pia Alisjahbana, Earth Hour 2010 menargetkan akan menjangkau lebih 1 miliar orang di 5.000 kota di dunia turut mematikan lampunya dan mengurangi energi listrik. Hingga saat ini, baru 1.882 kota di 110 negara telah menyatakan komitmen partisipasi Earth Hour 2010. Yuk kita dukung gerakan ini dengan cara mematikan lampu selama satu jam secara serentak pada 27 Maret 2010. (Marwan).



19 Mar 2010

Nestle Berencana Hentikan Kontrak Sinar Mas


Kantor Pusat Nestle di Vevey, Switzerland, Foto : msnbc.com

Jakarta, Greenpress-Setelah perusahaan Nestle menuai protes besar-besar dari aktivis Greenpeace di Eropa, akhirnya Nestle kemarin mengeluarkan tanggapan atas aksi Greenpeace, bahwa mereka akan menghentikan kontrak langsung dengan Sinar Mas.

Hal tersebut disampaikan Bustar Maitar, Juru Kampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara siaran persnya yang diterima BeritaLingkungan.com. “Meski memutus kontrak dengan Sinar Mas, tetapi masih akan tetap menggunakan minyak kelapa sawit Sinar Mas yang didapat dari suplier lain,”kata Bustar.

Greenpeace selain meliris laporan tentang keterlibatan Nestle dengan perusahaan yang dituding melakukan perusakan hutan dan lahan gambut di Indonesia. Greenpeace juga meluncurkan video mengenai betapa Kitkat terkait dengan kelangsungan orangutan. Video berjudul “Have a Break” ini bisa dilihat di http://www.greenpeace.org/kitkat. "Kampanye Greenpeace ini akan dihentikan jika Nestle telah tidak lagi menggunakan produk Sinar Mas dan rantai distribusinya,"ujar Bustar.

Sebelumnya, kampanye Greenpeace yang memprotes praktik perusakan lingkungan di Indonesia, dmendapat respon dari beberapa perusahaan besar termasuk Unilever dan Kraft, telah melakukan pembatalan kontrak dengan Sinar Mas Grup. (Marwan).

Aktivis Greenpeace Protes di Kantor Nestle


Aktivis Greenpeace melakukan aksi protes di kantor Nestle, Foto : Greenpeace.

Greenpeace selain merilis laporan tentang keterkaitan Nestle dengan perusahan perusak hutan dan lahan gambut di Indonesia. Para aktivis Greenpeace juga melakukan aksi protes dilakukan di seantero Eropa.

Berdasarkan informasi dari situs resmi Greenpeace mengabarkan, sekitar 100 aktivis Greenpeace kemarin melakukan aksi dengan mengenakan kostum orangutan, datang ke kantor Nestle di Inggris, Jerman dan Belanda.

Mereka meminta pegawai Nestle untuk mendesak perusahaan berhenti menggunakan minyak kelapa sawit yang berasal dari perusakan hutan. Greenpeace juga merilis video parodi dari Kitkat, dan Nestle telah mendesak YouTube untuk menghapus video itu. Tetapi orang-orang terus mengirim ulang video itu ke YouTube.

“Dalam pernyataan tanggapannya, Nestle telah mengakui menggunakan minyak kelapa sawit dari penyebab kerusakan hutan di Indonesia. Tetapi upaya untuk menghapus video kita menjadi bukti bahwa Nestle masih menyembunyikan fakta,” tegas Bustar Maitar, Team Leader Kampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara.

Menurut Bustar, Nestle, salah satu perusahaan makanan-minuman terbesar dunia dan termasuk konsumen besar minyak kelapa sawit. "Tiga tahun terakhir penggunaan minyak kelapa sawit mereka hampir dua kali lipat, dengan 320.000 ton minyak kelapa sawit digunakan untuk berbagai produk, termasuk Kitkat,"ungkap Bustar. (Marwan).


Nestlé Terkait Perusakan Hutan


Foto : Google.com

Jakarta, Greenpress- Nestle, perusahaan multinasional yang berpusat di Vevey, Swiss yang bergerak dalam bidang pembuatan makanan termasuk pembuatan cokelat yang cukup terkenal Kitkat ditenggerai terkait perusahaan hutan dan lahan gambut di Indonesia.

Laporan terbaru Greenpeace yang diterima BeritaLingkungan.com (18/3) menunjukkan Nestle menggunakan minyak kelapa sawit yang berasal dari perusakan hutan dan lahan gambut Indonesia dalam produk seperti Kitkat, yang juga menggiring orangutan yang sudah terancam menuju kepunahan dan memperparah perubahan iklim.

Laporan Greenpeace berjudul “Caught Red-Handed (Tertangkap Basah)” menunjukkan bagaimana Nestle mendapat pasokan minyak kelapa sawit dari suplier, termasuk produsen terbesar dan paling merusak – Sinar Mas Group. Sebagai produsen terbesar Indonesia, Sinar Mas terus melakukan ekspansi pada lahan gambut dan hutan alam, termasuk habitat orangutan. Sinar Mas juga pemilik Asia Pulp and Paper (APP), perusahaan pulp and paper terbesar Indonesia.

Laporan ini diluncurkan menyusul beberapa upaya sebelumnya untuk membujuk Nestle membatalkan kontrak dengan Sinar Mas. Terakhir, pada Desember, Greenpeace mengirim surat ke Nestle beserta bukti Sinar Mas melanggar hukum Indonesia dan mengabaikan komitmen mereka sebagai anggota Organisasi Minyak Sawit Berkelanjutan (Round Table on Sustainable Palm Oil – RSPO), badan yang didirikan untuk membuat industri sawit berkelanjutan. Bukti menunjukkan bahwa perusakan hutan oleh Sinar Mas terus terjadi.

Menurut Bustar Maitar, Juru Kampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara, Sinar Mas tidak hanya bertanggung jawab terhadap terus berlangsungnya perusakan terhadap keanekaragaman hayati Indonesia, tetapi ekspansi besar-besaran perkebunan mereka juga mengancam kehidupan jutaan masyarakat yang hidupnya tergantung pada hutan.

“Perusahaan besar lainnya telah melakukan sesuatu terhadap hal ini, tetapi Nestle terus menutup mata terhadap perilaku buruk pemasoknya, ini saatnya Nestle membatalkan kontrak dengan Sinar Mas dan mendukung penghentian perusakan hutan dan lahan gambut,”ujar Bustar. (Marwan).



11 Mar 2010

Greenpeace Tolak Perkebunan Sawit


Foto : Greenpeace.

Jakarta,-Aktivis Greenpeace hari ini melakukan aksi membentangkan banner dari atas gedung Kantor Kementerian Kehutanan bertuliskan “Plantations are not forests” (perkebunan bukan hutan). Mereka menolak rencana peraturan yang memasukan perkebunan sawit ke dalam kategori hutan.

Menurut Greenpeace, jika perkebunan akhirnya dimasukkan dalam kategori hutan, dikhawatirkan akan menyebabkan makin besarnya emisi dari perusakan hutan dan lahan gambut yang saat ini sudah sangat besar, membawa Indonesia menjadi negara terbesar ketiga penghasil emisi.

Konsumsi CPO dan Rencana Penggunaan CPO untuk Biofuel di pasar internasional telah mengakibatkan meluasnya penghancuran hutan dan gambut di IndonesiaLangkah menteri ini akan memperparah kehancuran hutan alam Indonesia yang masih tersisa, memberi peluang perkebunan berlindung di balik kategori hutan. “Menteri Zulkifli Hasan harus segera membatalkan segala rencana untuk memasukkan perkebunan dalam kategori hutan dan mulai fokus pada bagaimana melindungi hutan Indonesia yang masih tersisa, biodiversitas, serta masyarakat yang hidupnya bergantung kepada hutan. Jika rencana ini diteruskan, kerusakan dahsyat hutan akan terjadi dan menteri akan bertanggung jawab atas gagalnya Indonesia memenuhi komitmen penurunan emisi yang telah dilontarkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono,” ujar Joko Arif, Jurukampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara dalam siaran persnya yang diterima BeritaLingkungan.com.

“Dunia Internasional akan segera memberikan dana bagi Indonesia untuk melindungi hutannya. Karenanya sangat kontradiktif jika Indonesia malah mempromosikan perkebunan sebagai hutan. Dana ini tidak seharusnya digunakan untuk mengubah hutan alam menjadi perkebunan, atau sarana promosi kelapa sawit. Jika pemerintah serius ingin mengurangi emisi dan melakukan sesuatu untuk mengatasi dampak terburuk perubahan iklim, moratorium (penghentian sementara) perusakan hutan dan perlindungan penuh lahan gambut adalah cara paling efektif,” Joko tambahnya.

Lembaga-lembawa swadaya masyarakat di Indonesia seperti Greenpeace, Walhi, Forest Watch dan Sawit Watch juga telah mengirimkan surat terbuka kepada Menteri Kehutanan dan Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia untuk memperingatkan mereka akan bahaya dari kebijakan yang salah ini.(Marwan).


7 Mar 2010

Pameran Produk Berlabel Hijau


Pameran produk berlabel hijau atau Eco-Products Internasional Fair (EPIF) 2010 dilaksanakan di Jakarta Convention Centre (JCC), Senayan, yang saat ini sementara berlangsung.

Pameran yang dimulai sejak tanggal 4 hingga 7 Maret ini menampilkan beragam produk yang berhubungan dengan lingkungan seperti teknologi ramah lingkungan, sistem, peratan dari sejumlah perusahaan lokal, nasional dan internasional termasuk inovasi hijau karya sejumlah pelajar dari sejumlah sekolah di tanah air.

Kitayama Teisuke, Ketua Komite Persiapan Untuk EPIF dalam siaran persnya mengatakan, EPIF tidak hanya menjadi untuk memamerkan produk-produk, teknologi dan layanan ramah lingkungan, namun juga menjadi wadah informasi mengenai cara-cara terbaru dan paling efektif dalam mengubah gaya hidup guna mendukung percepatan pencapaian dunia yang rendah emisi karbon.

“Sebagai forum bagi perkembangan ekonomi dan lingkungan di Asia dan juga di dunia, saya yakin EPIF dapat menciptakan peluang-peluang baru bagi penanganan berbagai masalah ekonomi dan lingkungan, melalui penjalinan kerjasama antara perusahaan dan industri, antara industri dan dunia pendidikan serta pembentukan kerjasama internasional,”jelasnya.

Bagi para pelaku usaha kegiatan pameran produk berwawasan lingkungan terbesar di Asia ini menjadi ajang strategis untuk membina kemitraan dengan banyak pihak secara luas. Sementara bagi para pengunjung bisa mengenal berbagai produk ramah lingkungan dan mempelajari bagaimana cara hidup ramah lingkungan mulai dari penggunaan sampah rumah tangga hingga pengguna teknologi ramah lingkungan.

Selain pameran, kegiatan ini dirangkaikan sejumlah workshop internasional yang bertemakan lingkungan hidup serta diskusi panel tentang pengenalan produk-produk dan layanan ramah lingkungan mulai dari kerajinan eco batik hingga inovasi terbaru dalam bidang lingkungan.

Pameran akbar ini terselenggara atas kerjasama Asian Producvity Organisasion (APO) yang berbasis di Yokyo, Jepang dengan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) serta Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi. (Marwan Azis).


ANTARA