22 Feb 2009

Berita Foto : Deklarasi Politisi Busuk


Sebagai tanggung jawab mengawal terwujudnya Pemilu 2009 berkualitas, puluhan aktifis LSM dan Mahasiswa di Sultra mendeklarasikan anti politisi busuk beberapa waktu lalu. Tak hanya LSM lokal, LSM nasional seperti ICW dan Fitra Indonesia turut ambil bagian mendukung kampanye anti politisi busuk. Terdapat delapan kriteria politisi busuk diantaranya politisi yang terlibat korupsi, politisi yang terlibat dan mendukung kejahatan lingkungan hidup. foto: Yoshasrul

“Selamat Tinggal Bom Ikan”

By: Yos Hasrul
Bekerja sebagai nelayan pembom ikan membuat para nelayan terkadang harus diperhadapkan dengan berbagai resiko yang sangat mengerikan. Tidak hanya cacat. Bahkan resiko yang paling terburuk para nelayan yang menekuni kegiatan dengan menggunakan bahan peledak ini terkadang harus kehilangan nyawa bila bahan peledak yang mereka gunakan tiba-tiba meledak didalam genggaman.

Inilah yang dialami Sabang (35 tahun) seorang nelayan di Desa Mekar Jaya, Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara harus rela kehilangan salah satu lengannya setelah bahan peledak yang digunakannya meledak ditangannya.

Kisah pedih itu benar-benar masih diingatnya. Kegiatan berkategori ilegal fishing itu dilakoninya sejak masih berusia 20 tahun. Karena trauma Sabang pun meninggalkan kegiatan yang ditekuninya selama bertahun -tahun itu dan kini beralih menekuni kegiatan budidaya ikan dan lobster melalui keramba.

Berjarak hanya sekitar 200 meter dari desanya tinggal Sabang membangun sebuah karamba yang dijadikannya sebagai tempat budidaya ikan dan lobster sekaligus menjadi tempat tinggalnya.

Sejak tiga tahun beralih profesi dari sebelumnya sebagai seorang pembom ikan Sabang menghabiskan waktunya dikaramba ini.

Karamba yang dibangunnya diatas laut degan ukuran 7 x 6 meter ini terdiri dari dua petak masing-masing dibatasi dengan jarring. Petak pertama berisi ikan-ikan kelas satu seperti ikan kurapu dan petak lainnya berisi lobster atau lazimnya dikenal dengan udang laut.

Pilihannya untuk beralih profesi ini ia lakukan menyusul pertisitiwa tragis yang dialaiminya sehingga menyebabkan sebelah tangannya cacat akibat terkena ledakan bom disamping pendapatannya yang tidak sebanding dengan resiko kegiatannya sebagai pembom ikan.

Dengan bantuan modal dari salah seorang pengusaha yang tinggal didesanya Ia pun mulai menekuni kegiatannya dan kini telah berjalan kurang lebih tiga tahun.dengan usaha ini pula Ia mampu meraih pendapatan lebih dibanding sebelumnya ketika masih menekuni kegiatan sebagai pembom ikan.“Alhamdulillah dari usaha ini saya bisa menyekolahkan anak,”kata Sabang. Kegiatan usaha ini secara perlahan mulai Ia rasakan manfaatnya. Meski usahanya belum pernah mendapatkan perhatian dari pemerintah setempat namun memori sadarnya telah membuatnya untuk meningalkan kegiatannya sebagai pembom ikan, apalagi Ia sangat sadar jika kegiatan semacam itu menimbulkan dampak buruk terhadap kerusakan ekosistem terumbu karang.

Sabang hanyalah satu dari sekian pelaku pembom ikan yang ada didesa mekar jaya yang akhirnya harus beralih profesi sebagai dari pembom ikan menjadi pelaku budidaya karamba ikan kurapu dan lobster.

Motivasi untuk menambah pendapatan dan menekan laju kerusakan lingkungan telah membuat sabang untuk tidak lagi menekuni kegiatannya sebelumnya memainkan bahan peledak apalagi setelah dirinya didera cacat setelah terkena ledakan bom.

Pengerukan Pasir Sungai Pohara Kabupaten Konawe



Tampak pada gambar, bantaran sungai setiap harinya terkikis, akibat ulah perusahaan penambang pasir yang menggunakan mesin pompa air. Mesin tersebut sangatlah mempengaruhi bantaran sungai. foto: yoshasrul

Konawe, Greenpress-Aktifitas penambangan pasir ilegal di sungai pohara oleh warga setempat telah menyebabkan terjadinya degradasi lingkungan yang luar biasa. Sungai yang kian dalam menyebabkan badan tanah disepanjang sungai mengalami erosi yang hebat.

Warga yang bermukim di pinggiran Sungai Pohara, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara pun terancam bencana. Satu rumah masyarakat bahkan telah ambruk dan terbawah arus. Tubir sungai kian jauh masuk ke lahan pemukiman masyarakat. "Dalam tiga bulan tanah ini telah ambrol sejauh lima belas meter,"kata Dareman warga Desa Pohara, Kecamatan Sampara.


“Dengan adanya penambangan pasir yang menggunakan Pompa Pengisap Pasir di Ke 3 desa ini yaitu, desa Polua, Desa Amoare, Desa Andadowi, Kabupaten Konawe membawa dampak yang besar. Seperti yang nampak saat ini bahaya setiap saat menjadi ancaman buat warga,” papar seorang warga Desa Andaroa, Kecamatan Sampara, Kabupaten Konawe.

Ironisnya adanya kegiatan penambangan ini PAD yang masuk kedesa hanya berkisar Rp100 ribu per minggu. Kemudian dampak yang paling parah yang akan ditimbulkan apabila kegiatan penambangan pasir yang menggunakan mesin pengisap ini yaitu bakal putusnya sarana transportasi darat yang menghubungkan antara Kabupaten Konawe dan Kota Kendari.(Yos Hasrul)


Potensi Tambang Sulawesi Tenggara dalam Kepungan Investor



Gambar kegiatan eksplorasi tambang nikel di Pulau Lemo, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. foto: yoshasrul

Sektor pertambangan provinsi Sulawesi Tenggara cukup potensial dan menjadi perhatian investor nasional maupun asing yang bergerak di bidang pertambangan. Sulawesi Tenggara memiliki kandungan tambang yang sangat potensial dan telah banyak perusahaan yang telah melakukan eksplorasi utamanya kabupaten Buton, Konawe, Konawe Utara, dan kabupaten lain di Sulawesi Tenggara. Hal ini membuktikan bahwa Sulawesi Tenggara memilki potensi pertambangan yang dapat diandalkan, namun belum dioptimalkan pemanfaatannya.

Potensi pertambangan yang dimiliki oleh Sulawesi Tenggara diantaranya adalah Tambang aspal di Kabupaten Buton, Tambang nikel di kabupaten Kolaka, Konawe Utara dan Konawe, potensi tambang marmer, batu granit dan krom tersebar di beberapa kabupaten di Sulawesi Tenggara dan untuk potensi tambang minyak di Kabupaten Buton Utara dan Buton. Khusus untuk tambang aspal, beberapa perusahaan memegang kuasa pertambangan (KP) untuk melakukan eksplorasi.

Herry Asiku Ketua Kadin Provinsi Sulawesi Tenggara mengharapkan para pemegang Kuasa Pertambangan sebaiknya tidak terlalu lama melakukan eksplorasi yang sampai bertahun tahun lamanya dan disarankan tahap eksplorasi cukup dalam 1 sampai 3 tahun lamanya dan setelah itu telah dapat melakukan eksploitasi.

Ketertarikan investor cukup banyak untuk berinvestasi di sektor pertambangan Sulawesi Tenggara, pemerintah daerah dapat memberikan dukungan bagi investor dengan membangun sarana dan prasrana yang dibutuhkan investor, seperti jalan, jembatan dan pelabuhan dan lainnya, serta diharapkan dapat mempermudah dan mempercepat tahap eksploitasi tambang dan pada saat kegiatan investasi mulai dilaksanakan sarana yang dibutuhkan diupayakan dapat tersedia.

Kadin Sulawesi Tenggara juga mengharapkan perusahaan yang akan melakukan eksploitasi dapat bermitra dengan pengusaha lokal Sultra dan hal ini dimaksudkan agar terjadi proses alih teknologi di sektor pertambangan. Kehadiran investasi di suatu daerah juga diharapkan akan membuka lapangan kerja baru dan masyarakat diharapkan dapat memahami bahwa untuk melakukan investasi di bidang pertambangan, terdapat prosedur standar yang harus diikuti dan untuk pengendalian dan pengelolaan lingkungan di sekitar tambang tetap merupakan perhatian utama.

Jejak Sejarah Pertambangan Sultra

Seperti diketahui, sejarah pertambangan nikel di Kabupaten Kolaka (sebagai mana diulas Harian Kompas) bermula pada tahun 1909 EC Abendanon, seorang ahli geolog asal Belanda, menemukan bijih nikel di Kecamatan Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra). Eksplorasi bijih nikel sendiri baru dilaksanakan pada tahun 1934 oleh Oost Borneo Maatschappij (OBM) dan Bone Tole Maatschappij.

Pengapalan pertama 150.000 ton hasil tambang itu dilakukan OBM empat tahun kemudian ke negara Jepang. Nikel dimanfaatkan sebagai penyalut karena tahan karat dan keras. Percampuran antara nikel dengan tembaga misalnya, digunakan untuk membuat sendok dan garpu.

Dalam perkembangan sejarah, sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 39 Tahun 1960 dan Undang-Undang (UU) Pertambangan Nomor 37 Tahun 1960, Pemerintah RI mengambilalih penambangan tersebut dan berdirilah PT Pertambangan Nikel Indonesia (PNI). Penambangan logam putih berlambang kimia Ni ini, kemudian terbukti memberikan kontribusi bagi perekonomian nasional. Saat Sultra berupaya menjadi daerah otonom yang lepas dari Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel), sumber daya alam Kabupaten Kolaka itu diyakini mampu menjadi sumber ekonomi untuk mengelola rumah tangga sendiri.

Wilayah di jazirah tenggara Pulau Sulawesi itu kemudian ditetapkan menjadi provinsi baru, melalui UU No 13/1964. Dalam logo provinsi yang berhari jadi tanggal 27 April ini terdapat warna coklat sebagai lambang tanah yang mengandung nikel di Kabupaten Kolaka. Waktu terus bergulir. PT Per-tambangan Nikel Indonesia di-merger dengan enam perusahaan negara lainnya seperti PN Logam Mulia pada 5 Juli 1968 dan berubah menjadi PT Aneka Tambang. Areal kuasa pertambangan di Pomalaa ini-yang mencatatkan sahamnya di pasar modal pada tahun 1997-luasnya 8.314 hektar. Selain bijih nikel, perusahaan ini juga memproduksi feronikel atau feni yang merupakan paduan logam antara nikel dan besi (fero).

Tahun 2008 dihasilkan feronikel sekitar 10.000 ton nikel dan sekitar tiga juta wmt (wet metric ton) bijih nikel. Bijih nikel dipasarkan ke Je-pang dan Australia. Sedangkan feronikel dalam bentuk batangan logam atau ingot dijual ke negara Jerman, Inggris, Belgia, dan Jepang. Harga jualnya ber-dasarkan pada harga logam internasional yang mengacu pada London Metals Exchange (LME). Feronikel hasil penambangan perusahaan yang ber-kantor pusat di Jakarta ini, tahun lalu dihargai 3,73 dollar Amerika Serikat (AS) per pon. Sedangkan untuk bijih nikel tergantung pada tinggi rendah kadarnya.

Layaknya produk tambang yang memiliki nilai jual tinggi seperti minyak bumi dan emas, negara lalu mengklaim nikel sebagai miliknya. Tidak mengherankan bila hasil penjualan ke-kayaan daerah berlambang burung raksasa ini lebih menggembungkan pundi-pundi uang pemerintah pusat dibandingkan kas daerahnya sendiri. Usaha pertambangan dan penggalian berada di peringkat keempat dari sembilan lapangan usaha yang ada.

Kontribu-sinya pada tahun 2000 sekitar Rp 163 milyar atau 8,66 persen dari seluruh kegiatan ekonomi senilai Rp 1,9 trilyun.Meskipun begitu, harus diakui, kehadiran badan usaha berusia 33 tahun ini menimbulkan dampak positif bagi masyarakat sekitar. Dari kegiatan perusahaan ini di Pomalaa, setiap bulan kas daerah menerima pajak pemanfaatan air bawah tanah dan per-mukaan rata-rata Rp 30 juta. Jumlah kas juga bertambah dari perolehan pajak penerangan jalan sebesar Rp 100 juta per bulan.

Meskipun memiliki bijih nikel berkualitas ekspor, bahan tambang ini tidak lantas menjadi usaha terbesar Kolaka. Pertanian merupakan lapangan usaha terbesar masyarakat kabupaten di bagian barat Provinsi Sulawesi Tenggara ini. Sektor ini mampu menyerap 76.734 orang tenaga kerja. Total kegiatan ekonomi yang dihasilkan tahun 2000 besarnya Rp 765,2 milyar. Dari jumlah itu, separuhnya diperoleh dari kegiatan usaha di bidang perkebunan. Lahan perkebunan kabupaten yang terdiri dari pegunungan dan bukit yang memanjang dari utara ke selatan, terbanyak di-gunakan untuk areal tanaman kakao.

Sayangnya harga jual kakao atau kokoa-sebutan lain untuk tanaman cokelat-tidak stabil. Setelah sempat mencapai harga Rp 28.000 per kilogram pada tahun 1998, harga kakao jatuh. Harga per kilogram tahun 1999 turun enam ribu rupiah. Setahun kemudian menjadi dua belas ribu rupiah per kilogram dan tahun 2001 hanya Rp 8.000.

Penurunan ini ditengarai karena berkurangnya permintaan akan komoditas kakao, atau dikarenakan ulah para pedagang yang kebanyakan datang dari Makassar dan Surabaya untuk memperbanyak keuntungan. Mereka membeli langsung hasil kebun itu dari para petani.(Yos Hasrul)

Genta, Gelar Pelayanan Kesehatan di Cililin Bandung


Cililin-Bandung,Greenpress- Setelah dua rangkaian kegiatan di Pandeglang dan Cakung-Jakarta Timur beberapa waktu yang lalu, hari ini, Sabtu (21/2), Organisasi Genta (Gerakan Nasional Tanah Air) menutup rangkaian program Pembangunan 3 Desa di Pesantren Arafah, Cililin, Bandung Barat.

Dalam kegiatan kali ini, Genta memfokuskan kegiatan pada program posyandu dengan melakukan training untuk para kader Posyandu, pemeriksaan golongan darah untuk anak sekolah, penyuluhan kesehatan gigi, serta case finding, selection dan pendampingan untuk pasien katarak ke dan dari tindakan operasi.

Sedangkan operasi katarak terhadap para pasien yang ditemukan oleh tim dokter Genta akan dilakukan oleh RS Mata Cicendo pada hari Minggu, 22 Februari di Puskesmas DTP Cililin- Bandung Barat

Dalam rangkaian kegiatan di Cililin ini, Genta didukung oleh relawan yang terdiri dari 7 dokter, 15 sarjana psikologi, dan 15 relawan lainnya dari berbagai kalangan.

Metode pelatihan yang dihadirkan bukan hanya secara teknis, tetapi secara psikologis untuk memacu semangat para kader agar tergelitik untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi lingkungannya. "Karena sisi posyandu itu ada tumbuh dan kembang. Kalau tumbuh di tangani oleh dokter, sedangkan bagian kembang ditangani oleh para psikolog. Sehingga terjalin garis gotong royong yang menyatu," kata Ir. Bambang Her Priyambodo, MBA, ketua divisi kesehatan Genta.

Program pelatihan ini dihadiri oleh kelompok kader Posyandu dari 3 desa di sekitar Cililin, diantaranya desa Ranca Panggung, Muka Payung, dan Mongas. Materi pelatihan antara lain mengenai ASI eksklusif, dan perilaku bersih hidup sehat (PHBS).

Dikatakan oleh Djali Yusuf, Ketua Umum Genta, visi misi serta fokus program Genta adalah untuk memaksimalkan kesehatan masyarakat di daerah. "Kegiatan yang dilakukan Genta bersifat sustainable (berkesinambungan), dengan melibatkan masyarakat di daerah program. Tujuannya untuk mendorong tumbuhnya kader-kader lokal guna menularkan tanggung jawab kepada calon pemimpin-pemimpin muda," ujar Djali Yusuf.

Program Bangun 3 Desa ini hanyalah pilot project dari program-program yang akan dilakukan Genta dalam waktu dekat. "Dengan Program Bangun 3 Desa ini, kami berusaha merekatkan jalinan individu untuk melakukan sebuah kegiatan nyata. Kegiatannya tidak muluk-muluk, yakni dengan menghidupkan program pemerintah sebelumnya tetapi lama diabaikan," kata Djali Yusuf.

Dalam waktu dekat, Genta akan meluncurkan program yang akan merambah 100 desa di Jawa Barat, Jawa Timur, Banten, Jawa Tengah, dan Nusa Tenggara Barat yang akan berlangsung mulai Maret hingga Juni 2009. (elizabeth/Marwan)

ANTARA