31 Jan 2009

Pengelolaan Sampah di Makassar Akan Dilakukan Lulusan Sarjana


Makassar, Greenpress- Pengelolaan sampah adalah pengumpulan , pengangkutan , pemrosesan , pendaur-ulangan , atau pembuangan dari material sampah. Kalimat ini biasanya mengacu pada material sampah yg dihasilkan dari kegiatan manusia, dan biasanya dikelola untuk mengurangi dampaknya terhadap kesehatan, lingkungan atau keindahan.

Pengelolaan sampah juga dilakukan untuk memulihkan sumber daya alam . Pengelolaan sampah bisa melibatkan zat padat , cair , gas , atau radioaktif dengan metoda dan keahlian khusus untuk masing masing jenis zat.

Praktek pengelolaan sampah berbeda beda antara Negara maju dan negara berkembang , berbeda juga antara daerah perkotaan dengan daerah pedesaan , berbeda juga antara daerah perumahan dengan daerah industri. Pengelolaan sampah yg tidak berbahaya dari pemukiman dan institusi di area metropolitan biasanya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah, sedangkan untuk sampah dari area komersial dan industri biasanya ditangani oleh perusahaan pengolah sampah, hal ini dikatakan Direktur Green Foundation, Husniaty Amirullah. R kepada Wartawan di Makassar (30/1.

Direktur Green Foundation, Husniaty Amirullah. R (foto: Andi Ahmad)

Menurut Husniaty selama ini The Greeen Foundation juga mencermatai pengolaaan sampah serta dampak lingkungan yang disebabkan olehnya. Penyelesaian masalh sampah haruslah secara menyeluruh dan berkelanjutan. Mengingat peningkatan volumr sampah berbanding lurus dengan peningkatan populasi. Kedua masalah ini menjadi masalh yang serius untuk kota besar seperti Makassar. Untuk penangannya tidak sebatas angkut, antar , buang dan tampung saja. Tapi Penangan pasva fase keempat (penampungan) justru menjadi hal yang paling penting dan urgen. Kesalahan dalam manajemen akhir pengolahan sampah ini akan memberikan dampak buruk bagi lingkungan, terutama pada pencemaran air tanah, jelasnya.

" Maka untuk mengatasi permasalahan ini The Green Foundation (Yayasan Hijau) akan memberikan kontribusi aktiv dalam hal penanganan sampah di Kota Makassar sebagai ibu kota Provinsi Sulsel, dimana nantinya program yang akan dilaksanakan Green Fondation akan bersinergis dengan program Gubernur Sulsel yakni Sulsel Go Green yang telah dicanangkan tahun 2008 yang lalu," ucap Husniaty.

Adapun Metode pengelolaan sampah berbeda beda tergantung banyak hal , diantaranya tipe zat sampah , tanah yg digunakan untuk mengolah dan ketersediaan area. Pada Praktek dilapangan nantinya akan dipakai tenaga S1 ( Sarjana) yang akan memdampingi para pemulung yang ada di Kota ini, dimana Green Foundation sebelumnya akan merekrut para sarjana ini untuk dilatih sebagai Wirausaha Muda Mandiri, dan waktu yang sangat singkat para lulusan sarjana ini mampu menciptakan lapangan kerja dan siap terjun dimasyarakat, ujarnya.

Secara otomatis Green Foundation akan membantu Pemerintah Kota Makassar khususnya dan Pemerintah Provinsi umunya, karena dapat mengurangi jumlah pengangguran yang setiap tahun semakin meningkat didaerah ini, kata, Tono salah satu pemerhati Sosial dan Tenaga Kerja Masyarakat yang ada di Makassar. ( Andi Ahmad)

17 Jan 2009

Parlemen Eropa Mendukung Pengurangan Daging


Parlemen Eropa mendukung pengurangan daging untuk menurunkan gas rumah kaca. Selama diskusi mengenai target pengurangan gas rumah kaca, Komite Iklim Parlemen Eropa secara resmi mengakui kontribusi peternakan terhadap pemanasan global dan merekomendasikan peninjauan ulang terhadap subsidi yang diberikan kepada industri peternakan untuk menurunkan metana.


Jens Holm, anggota parlemen Eropa dari Swedia, menuturkan bahwa pengaruh terbesar yang dapat Anda lakukan adalah dengan mengurangi konsumsi daging atau berhenti total makan daging. Anda akan menciptakan surplus pangan yang dapat digunakan untuk memberi makan orang-orang yang kelaparan saat ini.(Jensholm)

Kerajinan Ramah Lingkungan Disukai Pasar Ekspor

Yogyakarta- Produk kerajinan yang berbahan baku ramah lingkungan masih tetap disukai oleh pasar ekspor, sehingga dapat menjadi peluang besar bagi para perajin Indonesia, kata Direktur Asosiasi Pengembangan Industri Kerajinan Republik Indonesia (APIKRI), Amir Panzuri.

Di Yogyakarta, Jumat, ia mengatakan, produk kerajinan yang ramah lingkungan adalah yang bahan bakunya dari alami yang bisa dikembangkan dan selalu bisa terbarukan.

"Selain itu, bukan dari bahan baku dari bahan tambang yang untuk memperolehnya bisa merusak lingkungan. Juga bukan bahan baku dari barang yang langka dan tidak bisa terbarukan," katanya seperti dikutip Antara.

Ia mencontohkan, produk kerajinan ramah lingkungan yang memiliki prospek baik di pasar ekspor, diantaranya anyaman serat daun pandan, yang bahan bakunya bisa diperoleh dengan mudah dan diperbarui dengan penanaman kembali jenis tanaman pandan tersebut.

Selain itu, produk kerajinan dengan bahan baku dari kayu pohon cepat tumbuh dan tidak harus merusak lingkungan alam, misalnya bambu, sengon, mahoni dan sonokeling. bahan baku jenis itu mudah diperoleh dan bukan tanaman langka, kata Amir Panzuri.

Menyinggung mengenai produk kerajinan dari bahan serat pandan,ia mengatakan, memiliki prospek baik untuk ekspor ke bebagai negara, sedangkan di Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki potensi besar tanaman pandan.

Oleh karena itu, ia mengemukakan, pihaknya bekerjasama dengan perajin serat di wilayah Kabupaten Kulonprogo, berupaya mengembangkan tanaman pandan di kawasan Pantai Congot kabupaten tersebut.

Upaya mengembangkan tanaman pandan di pantai itu dimulai ulan Mei 2008 dengan menanam bibit pandan sebanyak 5000 batang.

"Kami mengharapkan dalam waktu dua tahun mendatang, tanaman pandan sudah bisa dipanen dan dimanfaatkan daunnya untuk dijadikan serat bagi bahan baku aneka kerajinan serat yang sampai kini banyak digeluti warga Kulonprogo,"katanya.

Ia mengatakan, pengembangan tanaman pandan di kawasan pantai Congot tersebut diharapkan dapat membuka lapangan kerja baru, sebab masyarakat setempat bisa memiliki usaha kerajinan dari bahan serat daun pandan.

Kawasan pantai di wilayah Kulonprogo memang potensi tanaman pandan,namun selama ini belum dibuddayakan dengan baik dan hanya dibiarkan tumbuh liar, padahal serat daun pandan maupun daun pandan dikeringakan bisa menmenjadi bahan baku kerajinan yang memiliki nilai jual tinggi, katanya. (Ant)


Polisi Pandeglang Tangkap 11 Pembalak Kayu Liar

Pandeglang - Polisi Pandeglang berhasil menangkap 11 pembalak kayu liar sepanjang tahun 2008, dan para tersangka tengah menjalani sidang pengadilan hingga ada yang di penjara.


Kepala Satuan Resese dan Kriminal Kepolisian Resort (Kasatreskrim Polres) Pandeglang, AKP Yusup Rahmanto, mengatakan bahwa dari 11 tersangka pembalak kayu liar itu ada empat kasus di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), Kecamatan Sumur, dan satu lagi kasus di Perum Perhutani Kecamatan Angsana.

Pelaku ada yang dijatuhkan hukuman selama 10 tahun, yakni pembalakan liar di TNUK itu.

"Hukuman selama 10 tahun ini, agar masyarakat tidak mengulangi kembali karena TNUK merupakan hutan konservasi," katanya seperti dilansir Antara.

Dia menyatakan, kasus pembalakan liar pihaknya tidak akan main-main karena bisa menimbulkan bencana banjir dan longsor.

Selain itu, kondisi hutan konservasi harus dilindungi dan dijaga bahkan Undang-undang Nomor 5 tahun 1990 tersangka pembalakan liar di TNUK bisa dihukum penjara 10 tahun.

Ia menilai, keberhasilan polisi menangkap para pembalak kayu liar itu tidak lepas dari peran serta masyarakat yang cepat melaporkan kepada petugas, sehingga pelaku bisa diamankan.

Oleh karena itu, pihaknya meminta kepada masyarakat, agar senantiasa berkordinasi dalam penanganan masalah kriminal. (Ant)


15 Jan 2009

Paus Raksasa Terdampar di Pantai Batubelig

Denpasar, - Satu ikan paus dengan panjang tubuh 12 meter bergaris tengah sekitar 1,5 meter, terdampar di Pantai Batubelig, Kerobokan, Kabupaten Badung.

Ikan yang sudah dalam kondisi menebarkan bau busuk itu, terdampar di pantai setelah digiring ombak cukup besar pada Rabu (14/1) siang sekitar pukul 12.00 wita.

Wartawan ANTARA dari pantai sekitar 12 kilometer baratdaya Kota Denpasar, Kamis melaporkan, bangkai mamalia perairan laut yang sudah tergolong langka itu, tampak dikerubuti puluhan warga yang ingin menyaksikannya.

Tidak hanya warga lokal, tetapi sejumlah turis asing yang tengah berlibur di Pulau Dewata pun, terkesan kagum menyaksikan satwa yang berbaring kaku di hamparan pasir putih.

Beberapa "bule" tersebut tampak berusaha mengabadikan ikan paus dari beberapa sisi dengan kamera foto video yang dibawanya.

Kabid Kelautan Dinas Perikanan dan Kelautan Badung I Made Suarta menyebutkan bahwa pihaknya belum tahu persis jenis atau identitas ikan paus yang terdampar di siang berderang itu.

Meski demikian, lanjut dia, pihaknya tidak bermaksud melakukan uji laboratorium terhadap binatang yang sudah menebar bau busuk ke sekelilingnya.

"Kondisinya sudah sangat busuk, sehingga tidak mungkin untuk dilakukan uji lab guna mengetahui jenisnya," katanya.

Mengenai penyebab matinya satwa raksasa itu, Suarta belum dapat memastikan. Namun dugaan sementara ikan telah mati di tengah laut sejak beberapa hari lalu.

"Begitu mati, ikan tidak langsung `mendarat` melainkan baru menepi ke pantai setelah digiring ombak besar," katanya.

Selain menjadi tontonan, ikan yang biasa diambil minyaknya untuk berbagai keperluan itu, tampak rampai diperebutkan dagingnya oleh warga setempat.

Paus malang terlihat ramia disisit atau dipotong-potong menggunakan pisau dan kampak oleh warga setempat untuk diambil daging dan tulangnya.

Peristiwa terdamparnya ikan maut mati kali ini, merupakan yang kedua kalinya setelah kasus serupa muncul di Pantai Tabanan pekan lalu. (Ant)


10 Jan 2009

Caleg Partai Hanura Sulsel Programkan Tanam Pohon

Syamsuryadi/Andi Ahmad- Makassar
Sejumlah Caleg Tanam Pohon di Sulsel.

Program penanaman pohon yang gencar dilakukan saat ini mendapat respon positif dari berbagai kalangan. Tak terkecuali para calon legislatif.
Makassar, Greenpress- Seperti yang dilakukan Nasrullah Rahim, caleg Partai Hanura untuk DPRD Kota Makassar. Nasrullah menempati nomor urut 2 untuk Daerah Pemilihan (DP) IV, meliputi Bontoala, Tallo, Wajo dan Ujung Tanah.

Bekerjasama dengan Forum Komunikasi Bersama Makassar (FKBM) yang diketuai Anwar Salam, Nasrullah menyerahkan 100 bibit pohon untuk ditanam di wilayah Kelurahan Mampu, Kecamatan Wajo. Penyerahan bibit pohon produktif dan pelindung, seperti nangka, cenrana dan mahoni ini dilakukan di halaman kantor Lurah Mampu, Jumat (9/1).

Sekretaris Kecamatan (Sekcam) Wajo, Drs A Azis Hasan, MSi dan Lurah Mampu, Drs Abd Ramang S, MM hadir dalam acara ini. Selanjutnya, bibit yang diterima itu akan dibagikan kepada masyarakat RW Kelurahan Mampu, tepatnya di Jl Sarappo.

Sekcam Wajo merespon positif apa yang dilakukan Nasrullah. Sebagai caleg, kata dia, Nasrullah telah memperlihatkan kepeduliannya terhadap upaya penyelamatan lingkungan, khususnya di Kelurahan Mampu.

"Kita berharap bukan hanya satu caleg yang punya kepedulian seperti ini. Caleg partai lain kita harapkan juga bisa melakukannya," kata Azis Hasan.

Lurah Mampu, Abd Ramang, mengakui, di wilayahnya banyak mobil truk ataupun bus yang beroperasi. Otomatis pencemaran udara banyak terjadi akibat banyaknya kendaraan.

"Daerah ini butuh penghijauan. Kita sangat merespon jika ada pihak lain, termasuk caleg yang mau membantu," kata Abd Ramang usai penyerahan bibit pohon.
Lurah mengakui, apa yang dilakukan Nasrulah dengan menyerahkan bibit pohon untuk penghijauan di wilayahnya, baru pertama kalinya dilakukan seorang caleg. Langkah ini, menurut dia, sejalan dengan program Sulsel Hijau.

Sebelum di Kelurahan Mampu, Nasrullah yang juga menggandeng FKBM sudah melaksanakan program penanaman pohon di wilayah Tallo dan Bontoala Parang.

"Program selanjutnya adalah kebersihan. Kita akan memfasilitasi masyarakat untuk aktif menjaag kebersihan. Sebagai tahap awal kita akan laksanakan di wilayah Lembo. Sementara kita berkoordinasi dengan pemerintah setempat," ujar Nasrullah didampingi Anwar Salam.(Syamsuryadi/Andi Ahmad)


Tanam Pohon untuk Tanggulangi Krisis Lingkungan

Boyolali (ANTARA News) - Krisis lingkungan hidup bisa ditanggulangi dengan cara penanaman pohon sebanyak-banyaknya, karena pohon bisa menjadikan udara bersih dan mampu menyimpan air.

Hal tersebut dikatakan Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar, disela-sela acara ulang tahun ke-50 Gapensi penanaman lima juta pohon di 450 kabupaten/kota di 33 provinsi di Indonesia yang di pusatkan di Kompleks Wisata Tlatar, Boyolali, Jawa Tengah, Jumat.

Acara dengan tema Pembangunan Berwawasan Lingkungan tersebut juga dihadiri Menteri Pekerjaan Umum (PU) Djoko Kirmanto, Bupati Boyolali, Sri Moeljanto dan pejabat Mupida, Duta Lingkungan Hidup, Shafa Tasya Kamila atau Tasya.

Lebih lanjut Rachmat Witoelar mengatakan, apa yang paling terpenting di dunia ini, yakni udara dan air. Jika udara dan air bersih, maka kehidupan manusia akan sehat.

"Bagaimana kita bisa mempertaruhkan udara bisa bersih dan air masih tetap lestari serta mendukung negara dalam kehidupan masyarakat ini, katanya.

Menurut Rachmat Witoelar, yakni dengan penanam pohon itu yang paling baik, karena pohon itu mempunyai fungsi banyak di antaranya, bisa membersihkan udara dan menyimpan air atau tata air.

Indonesia mempunyai posisi yang setrategis dalam konteks dunia untuk membersihkan udara yang sekarang terancam mengalami perubahan iklim dengan penanaman pohon tersebut.

Rachmat Witoelar mengatakan, dari prospektip dunia, hutan tersebut diperlukannya, maka dana internasional mau menyediakan yang besar tak terhingga untuk dilimpahkan kepada negara-negara seperti Indonesia.

"Yakni, negara tropis yang bisa menanaman pohon banyak, karena pohon itu yang bisa melestarikan udara dan air," katanya.

Perubahan udara, kata dia, merupakan acaman dunia di dalam perubahan iklim atau emergensi adalah perubahan struktur daripada udara dimana dunia ini akan terjadi melapetakan besar termasuk kenaikan dari pada permukaan air laut.

Penanaman pohon itu, di negara yang sudah maju, mereka banyak kota besar dan sempit lahannya sehingga tidak bisa menanam seperti di negara Indonesia.

"Lahan kita cukup luas. Menurut Menteri Kehutanan, lahan luas masih bisa menanam lebih dari 18 juta hektare," katanya.(Ant)


Bank Inggris Komitmen Beli Karbon Hutan Aceh

Banda Aceh - Merrill Lynch International, salah satu bank di Inggris berkomitmen membeli karbon hutan Ulu Masen Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) senilai 10 juta dolar Amerika Serikat.


"Merrill Lynch akan membeli kredit karbon senilai 10 juta dolar AS dengan ketentuan jika sudah memiliki sertifikat kredit karbon," kata Tim Asistensi bidang sistem manajemen informasi Gubernur NAD, Wibisono yang dihubungi dari Banda Aceh, Jumat.

Menurut Wibisono, keinginan Merrill Lynch tersebut baru sebatas tahap komitmen dan mereka mengusulkan untuk direalisasikan dengan kesepakatan. Mereka juga baru akan membayar jika kawasan hutan sudah memiliki sertifikat kredit.

Wibisono menambahkan, perdagangan karbon memiliki beberapa model antara lain mengikuti Protokol Kyoto yang mengatur pengurangan emisi aktifitas industri.

Saat ini yang baru dilakukan berupa pasar sukarela dimana siapa saja bisa membuat komitmen untuk membeli karbon hutan.

Sementara itu Comunication Officer Flora dan Fauna International (FFI) Aceh, Dewa Gumay mengatakan, FFI yang sejak awal menginisiasi kredit karbon hutan Aceh khususnya Ulu Masen memfasilitasi bantuan teknis misalnya menyediakan konsultasi untuk Pemerintah Aceh.

Perdagangan karbon sendiri, menurut Dewa Gumay, hingga kini belum ada mekanisme jelas yang mengaturnya seperti bagaimana penyaluran dana oleh Merrill Lynch ke Aceh, tambahnya.

Dewa Gumay mengatakan, komitmen tersebut akan dimulai di wilayah Ulu Masen yang menjadi pilot proyek. Dipastikan tidak keseluruhan luas hutan Ulu Masen yang mencapai 740 ribu hektare menjadi kawasan perdagangan karbon.

"Kita belum tahu wilayah mana yang layak untuk perdagangan karbon karena assessment juga belum dilakukan," tambahnya seperti dilansir Antara.

Hutan Ulu Masen, sebagai kawasan ekosistem yang belum memiliki status baik melalui Peraturan Menteri maupun peraturan lainnya dipilih karena memiliki tantangan bagaimana melindungi wilayah hutan yang tidak berstatus hukum.

Berdasarkan proyeksi citra lansat Badan Planologi menunjukkan, dalam kurun waktu sembilan tahun, hutan Aceh mengalami pengurangan luas sebesar 500 ribu hektare atau setara 13,84 persen dari total luas 3.611.953 hektare.

Pengurangan luas ini terjadi sejak tahun 1994 hingga 2003, sementara Greenomics memperkirakan deforestasi dan degradasi di kawasan hutan Aceh selama 2002-2004 mencapai 200 ribu Ha, 60 persen terjadi di kawasan konservasi dan hutan lindung.

Penurunan luas kawasan hutan, sebagian besar disebabkan konversi hutan untuk kebutuhan pemukiman, lahan pertanian, perkebunan, dan industri. Penyebab lainnya adalah aktivitas illegal logging, dan kebakaran hutan.

Karena kawasan hutan Aceh masih dinilai salah satu yang terbesar di Indonesia maka diwacanakan perdagangan karbon terhadap hutan-hutan tersebut untuk mengurangi dampak perubahan iklim.

Pada dasarnya, perdagangan karbon berupa kesepakatan negara pemilik hutan dengan negara lain agar tetap menjaga hutannya sehingga menjadi paru-paru dunia. (Ant)



ANTARA